top of page
dokter onkologi terbaik

Profil dr. Andreas Ronald, Sp.Onk.Rad.

Pendidikan

  • Program Pendidikan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia "Lulus dengan predikat Cum Laude (IPK 3,64 dari 4,00)" (2018 - 2023)

  • Pendidikan Profesi Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti "Lulus dengan predikat Cum Laude (IPK 3,68 dari 4,00)" (2009 - 2015)

Kompetensi Utama

  • Intensity-Modulated Radiation Therapy (IMRT)

  • 3D-Conformal Radiotherapy (3D-CRT)

  • Brakiterapi

  • Treatment Planning System (TPS).

Perjalanan hidup saya menjadi dokter

Saya awali kisah ini dengan pernyataan: "Menjadi seorang dokter spesialis kanker adalah mimpi yang tidak pernah saya mimpikan." Sejak kecil, saya terobsesi bermain bola dan ingin menjadi pemain sepak bola profesional.

Perjalanan hidup saya tak lepas dari Papa. Ia adalah sosok panutan saya. Meski Papa bukan orang yang berkelimpahan, ia adalah pekerja keras yang punya mimpi besar bagi anak-anaknya. Suatu hari Papa berkata kepada saya, "Kalau kamu mau mencari nafkah sekaligus membantu orang lain, jadilah seorang dokter." Kata-kata ini membekas di alam bawah sadar saya; saya seperti menemukan bintang baru yang ingin saya gapai.

Namun, perjuangan menjadi dokter tidaklah mudah. Saya mengalami 10 kali gagal ujian tes kedokteran! Saya sempat berpikir untuk mengubur mimpi tersebut. Syukurlah Tuhan menguatkan hati saya, dan pada ujian ke-11, saya dinyatakan lolos.

Pernah terbesit di kepala, kenapa saya harus gagal berkali-kali? Kini saya sadar bahwa kegagalan adalah bagian dari rencana Tuhan. Gagal 10 kali membuat saya tidak menyia-nyiakan sedetik pun waktu saat menempuh pendidikan. Saya belajar siang dan malam, hingga akhirnya lulus Cum Laude di S1 Kedokteran dan menjadi lulusan terbaik saat mengambil spesialis Onkologi Radiasi di Universitas Indonesia.

Mimpi saya yang sebenarnya baru terwujud saat penempatan di RSUD Bali Mandara yang menerima pasien BPJS. Di sini, bersama para perawat, rekan sejawat, radiografer, dan fisikawan medis, kami menjadi garda terdepan dalam memberikan pelayanan bagi seluruh pasien dari segala kalangan.

Pengobatan kanker sejatinya tidak murah. Sebelum menjadi dokter, saya pun berpikir hanya orang kaya yang mampu berobat kanker. Namun di sini saya menjadi saksi sistem negara yang memungkinkan pasien kanker mendapatkan perawatan gratis melalui BPJS. Saya menyaksikan begitu banyak nyawa terselamatkan.

Kisah saya mungkin diawali dari kegagalan, namun berakhir dengan kebahagiaan. Setiap pagi saya bangun dengan semangat untuk menyelamatkan nyawa, dan dari para pasienlah saya belajar tentang makna kehidupan yang sesungguhnya.

Mimpi saya belum berakhir. Saya ingin mengedukasi masyarakat bahwa kanker bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan harus dipahami dan diobati. Saya ingin menghapuskan mitos bahwa pengobatan kanker hanya untuk orang kaya, agar masyarakat tidak lagi ragu atau menunda pengobatan medis. Sebab sejatinya, kanker bukanlah vonis mati apabila ditangani dengan cepat.

bottom of page