top of page

Berapa Kali Radiasi untuk Kanker Serviks?

  • Writer: dr. Andreas Ronald Sp.Onk.Rad
    dr. Andreas Ronald Sp.Onk.Rad
  • 5 days ago
  • 3 min read

Halo, saya dr. Andreas Ronald, Sp.Onk.Rad, dokter spesialis onkologi radiasi yang menangani pasien kanker di RS Bali Mandara.

Salah satu pertanyaan yang hampir selalu ditanyakan oleh pasien dengan kanker serviks adalah:

“Dok, saya harus radiasi berapa kali?”“Apakah radiasinya lama?”“Kalau terlalu banyak, apakah berbahaya?”
Berapa Kali Radiasi untuk Kanker Serviks?

Pertanyaan ini sangat wajar.

Karena bagi pasien, jumlah sesi radioterapi sering kali menjadi gambaran tentang:

  • Seberapa berat terapinya

  • Berapa lama harus menjalani pengobatan

  • Dan seperti apa proses yang akan dijalani ke depan

Di sisi lain, tidak sedikit pasien yang membandingkan dengan orang lain:

“Kok teman saya radiasinya lebih sedikit ya, dok?”“Kenapa saya harus lebih banyak?”

Padahal, dalam praktik medis, jumlah radioterapi tidak ditentukan secara sama untuk semua pasien.

Dari pengalaman saya, kebingungan ini biasanya muncul karena belum dipahaminya bahwa radioterapi direncanakan secara individual, berdasarkan kondisi masing-masing pasien.

Faktor seperti:

  • Stadium kanker

  • Ukuran dan lokasi tumor

  • Tujuan terapi

akan sangat memengaruhi jumlah dan durasi radioterapi yang diberikan.

Karena itu, penting untuk memahami bahwa jumlah radiasi bukan sekadar angka, tetapi bagian dari strategi pengobatan yang dirancang secara khusus untuk memberikan hasil yang optimal.


Kenapa Banyak Pasien Khawatir dengan Jumlah Radiasi?


Saya sering melihat bahwa angka “berapa kali radiasi” menjadi salah satu hal yang paling membuat pasien cemas.

Beberapa pasien datang dengan kekhawatiran seperti:

“Dok, kalau terlalu banyak radiasi, nanti tubuh saya tidak kuat ya?”“Radiasi sampai puluhan kali, apakah itu normal?”“Kalau saya berhenti di tengah jalan, apa tidak apa-apa?”

Di sisi lain, ada juga pasien yang mulai membandingkan:

“Teman saya hanya sedikit, kenapa saya harus lebih banyak?”

Kekhawatiran seperti ini sangat bisa dipahami.

Karena angka jumlah terapi sering kali terasa seperti sesuatu yang besar dan menakutkan, apalagi jika belum memahami tujuan di baliknya.

Padahal, dalam radioterapi, jumlah sesi yang terlihat “banyak” sebenarnya bukan berarti berbahaya.

Justru sebaliknya.

Radioterapi diberikan dalam beberapa kali sesi dengan tujuan:

  • Membagi dosis agar lebih aman untuk jaringan sehat

  • Memberikan efek maksimal pada sel kanker

  • Mengurangi risiko efek samping


Artinya, jumlah sesi yang banyak bukan karena terapi “lebih berat”, tetapi karena terapi dibuat lebih terkontrol dan lebih aman.

Di titik ini, biasanya pasien mulai memahami bahwa angka tersebut bukan sesuatu yang perlu ditakuti.

Dan dari sinilah kita bisa mulai menjawab pertanyaan yang paling penting:


Berapa Kali Radioterapi untuk Kanker Serviks?

Setelah memahami bahwa jumlah sesi radioterapi bukan sesuatu yang perlu ditakuti, pertanyaan berikutnya adalah:

“Jadi, sebenarnya berapa kali saya harus menjalani radiasi, dok?”

Secara umum, radioterapi untuk kanker serviks terdiri dari dua jenis utama:


  • Radioterapi eksternal (dari luar tubuh)

  • Brakiterapi (radiasi dari dalam)


Keduanya biasanya saling melengkapi dalam satu rangkaian terapi.


1. Radioterapi Eksternal (External Beam Radiotherapy)


Berapa Kali Radiasi untuk Kanker Serviks?

Ini adalah jenis radioterapi yang paling sering dibayangkan pasien.

Dilakukan dengan alat dari luar tubuh, diarahkan ke area panggul.

Jumlah sesi:

  • Sekitar 25–30 kali

  • Dilakukan 5 kali per minggu (Senin–Jumat)

  • Total durasi sekitar 5–6 minggu

Tujuan:

  • Mengecilkan tumor

  • Mengontrol penyakit di area panggul

  • Mempersiapkan terapi lanjutan


2. Brakiterapi (Radiasi dari Dalam)


Berapa Kali Radiasi untuk Kanker Serviks? | brakiterapi

Setelah radioterapi eksternal, biasanya dilanjutkan dengan brakiterapi.

Ini adalah radiasi yang diberikan langsung ke area serviks dari dalam tubuh.

Jumlah sesi:

  • Biasanya sekitar 3–5 kali

  • Dilakukan dalam beberapa minggu

Tujuan:

  • Memberikan dosis radiasi tambahan langsung ke tumor

  • Meningkatkan efektivitas terapi

  • Membantu mencapai kontrol lokal yang optimal


Kenapa Harus Dua Jenis Radioterapi?

Banyak pasien bertanya:

“Kenapa tidak cukup satu saja, dok?”

Karena keduanya memiliki peran yang berbeda:

  • Radioterapi eksternal → menjangkau area yang lebih luas

  • Brakiterapi → fokus langsung ke tumor dengan dosis tinggi


Kombinasi ini sudah menjadi standar terapi pada banyak kasus kanker serviks, karena terbukti memberikan hasil yang lebih baik.


Apakah Semua Pasien Jumlahnya Sama?


Jawabannya: tidak selalu.

Jumlah sesi bisa berbeda tergantung pada:

  • Stadium kanker

  • Respons terhadap terapi

  • Kondisi umum pasien

Namun secara umum, kisaran di atas adalah yang paling sering digunakan dalam praktik klinis.


Apakah Banyaknya Sesi Berbahaya?


Ini yang sering dikhawatirkan pasien.

Perlu dipahami bahwa: jumlah sesi yang banyak justru dirancang agar terapi lebih aman

Karena:

  • Dosis dibagi dalam beberapa sesi

  • Memberi waktu jaringan sehat untuk pulih

  • Mengurangi risiko efek samping berat


Jadi, banyaknya sesi bukan berarti “terlalu kuat”, tetapi justru bagian dari strategi terapi yang terencana dengan baik. Dari pengalaman saya, angka “berapa kali radiasi” sering kali menjadi salah satu hal yang paling ditakuti pasien di awal terapi.

Padahal, ketika dipahami dengan benar, jumlah sesi tersebut bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan, melainkan bagian dari rencana pengobatan yang sudah disusun secara matang.

Radioterapi untuk kanker serviks bukan hanya tentang berapa kali dilakukan, tetapi tentang:


  • Memberikan dosis yang tepat

  • Menargetkan area yang tepat

  • Dan mencapai hasil yang optimal dengan risiko yang tetap terkontrol


Setiap sesi yang dijalani memiliki tujuan yang jelas dalam proses pengobatan.

Dan ketika pasien memahami hal ini, biasanya perjalanan terapi menjadi terasa lebih tenang dan terarah.

Karena pada akhirnya, bukan jumlahnya yang paling penting, tetapi bagaimana terapi tersebut membantu mencapai hasil terbaik bagi pasien.


Salam Sehat,


dr.Andreas Ronald Sp.Onk.Rad



Comments


bottom of page