Kena kanker? Apa yang harus saya lakukan selain berobat?
- dr. Andreas Ronald Sp.Onk.Rad

- May 2
- 6 min read
Halo, saya dr. Andreas Ronald, Sp.Onk.Rad, dokter spesialis onkologi radiasi yang menangani pasien kanker di RS Bali Mandara. Dalam praktik sehari-hari, salah satu momen yang paling sering saya temui adalah ketika pasien baru saja menerima hasil diagnosis kanker. Pada saat itu, hampir semua pasien menunjukkan reaksi yang serupa:
Kaget
Bingung harus mulai dari mana
Dan merasa pikirannya langsung “penuh”
Bahkan tidak jarang, pasien langsung bertanya:
“Dok, sekarang saya harus langsung kemoterapi atau radioterapi ya?”“Apa yang paling penting saya lakukan sekarang?”“Apakah masih ada yang bisa saya lakukan selain berobat?”

Pertanyaan-pertanyaan ini sangat wajar.
Karena ketika seseorang baru didiagnosis kanker, fokus utama biasanya langsung tertuju pada “terapi apa yang harus dijalani”, dan sering kali melupakan bahwa ada hal-hal lain yang juga sangat penting di luar pengobatan utama.
Dari pengalaman saya, kondisi awal setelah diagnosis ini adalah fase yang sangat krusial.
Bukan hanya dari sisi medis, tetapi juga dari sisi:
Mental pasien
Dukungan keluarga
Dan kesiapan tubuh untuk menjalani terapi
Namun sayangnya, tidak sedikit pasien yang langsung terburu-buru masuk ke fase pengobatan tanpa benar-benar memahami kondisi secara menyeluruh terlebih dahulu.
Akibatnya, mereka merasa:
Lebih cemas dari yang seharusnya
Sulit mengambil keputusan
Dan kehilangan arah dalam proses pengobatan
Padahal, selain terapi medis, ada beberapa hal penting yang justru sangat berpengaruh terhadap perjalanan pengobatan kanker secara keseluruhan.
Kalau Anda mau, saya bisa lanjutkan ke bagian berikutnya:
Kenapa Fase Setelah Diagnosis Ini Sangat Menentukan?
Dalam beberapa hari pertama setelah diagnosis kanker, saya sering melihat pasien berada dalam kondisi “shock”. Ada yang langsung ingin segera menjalani terapi apa pun yang disarankan.Ada juga yang justru menjadi sangat takut, sehingga menunda semua keputusan.
Bahkan tidak jarang, pasien dan keluarga langsung mencari berbagai informasi sendiri dari internet atau cerita orang lain, yang sayangnya sering kali tidak sesuai dengan kondisi medisnya.
Akibatnya, muncul beberapa pola yang cukup sering saya temui:
Terlalu cepat mengambil keputusan tanpa memahami pilihan terapi
Berpindah-pindah mencari pendapat tanpa arah yang jelas
Atau justru menunda pengobatan karena rasa takut

Padahal, dalam penanganan kanker, waktu memang penting, tetapi keputusan yang tepat jauh lebih penting.
Di fase ini, tujuan utama bukan hanya “segera berobat”, tetapi juga:
Memahami jenis kanker dengan benar
Mengetahui stadium dan penyebarannya
Menyusun rencana terapi yang paling sesuai
Karena itu, selain terapi medis, ada beberapa langkah awal yang sangat penting dilakukan pasien agar perjalanan pengobatan bisa lebih terarah dan optimal.
Dan sering kali, langkah-langkah inilah yang justru menentukan bagaimana hasil pengobatan ke depannya.
Apa yang Harus Dilakukan Selain Berobat Setelah Diagnosis Kanker?
Setelah fase awal yang penuh kebingungan dan emosi, langkah berikutnya adalah mulai menyusun arah yang lebih jelas. Dari pengalaman saya, ada beberapa hal penting yang sering kali tidak dilakukan secara optimal oleh pasien di awal perjalanan penyakitnya. Padahal, ini sangat berpengaruh terhadap kelancaran terapi ke depan.
1. Memahami Jenis dan Stadium Kanker dengan Jelas
Langkah pertama yang sangat penting adalah benar-benar memahami kondisi penyakitnya.
Bukan hanya sekadar “kanker”, tetapi:
Jenis kanker apa
Berasal dari organ mana
Sudah sampai stadium berapa
Apakah sudah menyebar atau belum
Informasi ini menjadi dasar utama untuk menentukan jenis terapi yang tepat.
Tanpa pemahaman ini, pasien sering merasa:
Bingung dengan pilihan terapi
Mudah panik saat mendengar berbagai saran
Tidak yakin dengan rencana pengobatan
2. Mengambil Keputusan Berdasarkan Rencana, Bukan Emosi
Setelah diagnosis ditegakkan, biasanya akan ada beberapa opsi terapi yang bisa dipertimbangkan.
Di titik ini, penting untuk tidak terburu-buru.
Saya sering menyarankan pasien untuk:
Mendiskusikan pilihan terapi secara lengkap dengan dokter
Memahami tujuan setiap terapi (kuratif atau kontrol)
Tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan rasa takut
Karena keputusan yang diambil dalam kondisi panik sering kali membuat pasien merasa lebih cemas di kemudian hari.
3. Menyiapkan Kondisi Tubuh Sebelum Terapi
Hal yang sering terlupakan adalah bahwa tubuh juga perlu dipersiapkan sebelum memulai terapi.
Beberapa hal yang penting:
Asupan nutrisi yang cukup
Menjaga berat badan tetap stabil
Mengontrol penyakit penyerta seperti diabetes atau hipertensi
Pasien dengan kondisi tubuh yang lebih baik biasanya:
Lebih kuat menjalani terapi
Lebih toleran terhadap efek samping
Dan memiliki pemulihan yang lebih baik
4. Dukungan Keluarga dan Lingkungan
Kanker bukan hanya perjalanan pasien, tetapi juga keluarga.
Dukungan yang baik dapat membantu:
Mengurangi beban psikologis pasien
Menciptakan lingkungan yang sehat (berhenti merokok, minum, dan mulai pola hidup sehat)
Support dan mengingatkan jadwal terapi
Saya sering melihat bahwa pasien dengan dukungan keluarga yang kuat cenderung menjalani terapi dengan lebih stabil secara emosional.
5. Mengatur Informasi dan Menghindari Kebingungan
Di era digital, informasi sangat mudah diakses.
Namun, tidak semua informasi cocok untuk setiap pasien.
Karena itu, penting untuk:
Fokus pada informasi dari dokter yang menangani langsung
Tidak mudah percaya pada pengalaman orang lain yang belum tentu sama kondisinya
Menghindari perubahan rencana terapi tanpa konsultasi
Terlalu banyak informasi tanpa arah justru sering membuat pasien semakin bingung.
6.Mengevaluasi Kebiasaan, Pola Makan, dan Gaya Hidup
Selain memahami diagnosis dan menyiapkan rencana terapi, ada satu langkah yang sering saya sarankan kepada pasien, namun sering terlewat
Tujuannya bukan untuk mencari kesalahan, tetapi untuk memahami faktor-faktor yang mungkin berkontribusi terhadap risiko kesehatan secara keseluruhan.
Apa yang Perlu Dievaluasi?
Beberapa aspek yang bisa mulai diperhatikan antara lain:

1. Pola Makan Sehari-hari
Apakah sering mengonsumsi makanan tinggi gula atau lemak berlebihan
Apakah konsumsi sayur dan buah cukup
Apakah sering mengandalkan makanan instan atau ultra-proses
Bagaimana pola makan harian dalam jangka panjang
Pola makan bukan penyebab tunggal kanker, tetapi dapat berperan dalam kesehatan tubuh secara umum dan risiko beberapa jenis kanker tertentu.
2. Aktivitas Fisik
Apakah aktivitas fisik cukup atau cenderung kurang gerak
Apakah sering duduk dalam waktu lama
Apakah ada olahraga rutin
Aktivitas fisik yang kurang dapat memengaruhi berat badan, metabolisme, dan kesehatan jangka panjang.
3. Kebiasaan Merokok dan Alkohol
Riwayat merokok aktif maupun pasif
Konsumsi alkohol
Kedua faktor ini diketahui berhubungan dengan peningkatan risiko pada beberapa jenis kanker tertentu.
4. Pola Tidur dan Stres
Kualitas tidur sehari-hari
Tingkat stres kronis
Keseimbangan antara aktivitas dan istirahat
Kondisi ini tidak berdiri sendiri, tetapi dapat memengaruhi daya tahan tubuh secara keseluruhan.
7. Memahami Paparan dan Faktor Risiko Kanker
Selain mengevaluasi kebiasaan dan gaya hidup, langkah penting lainnya setelah diagnosis adalah mencoba memahami paparan faktor risiko yang mungkin berperan dalam perjalanan penyakit.
Perlu saya tekankan terlebih dahulu kalau kanker bukan penyakit yang disebabkan oleh satu faktor tunggal dan tidak semua kasus bisa ditelusuri ke penyebab yang jelas
Namun, dalam banyak kasus, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker. Tujuannya bukan untuk mencari kesalahan, tetapi untuk memahami secara lebih menyeluruh kondisi yang mungkin berkontribusi.
1. Paparan Rokok (Aktif maupun Pasif)
Merokok merupakan salah satu faktor risiko yang paling banyak diteliti dalam berbagai jenis kanker.
Termasuk:
Kanker paru
Kanker kepala dan leher
Kanker kandung kemih
Bahkan paparan asap rokok pada orang yang tidak merokok (perokok pasif) juga tetap memiliki dampak terhadap risiko kesehatan.
2. Pola Konsumsi Makanan Tertentu dalam Jangka Panjang
Beberapa pola makan yang kurang seimbang dalam jangka panjang dapat berkontribusi terhadap peningkatan risiko, seperti:
Konsumsi makanan tinggi olahan (ultra-proses) secara berlebihan
Asupan serat yang rendah
Konsumsi daging olahan secara sering
Pola makan tinggi gula dan lemak tanpa keseimbangan nutrisi
Sekali lagi, ini bukan penyebab tunggal, tetapi bagian dari faktor risiko yang dapat berperan dalam jangka panjang.
3. Paparan Lingkungan dan Pekerjaan
Beberapa pasien memiliki riwayat paparan tertentu dalam pekerjaan atau lingkungan, seperti:
Paparan bahan kimia tertentu
Asap industri atau polusi udara jangka panjang
Paparan zat tertentu di tempat kerja
Faktor ini biasanya bersifat akumulatif (terjadi dalam jangka waktu lama).
4. Riwayat Infeksi Tertentu
Beberapa infeksi kronis juga diketahui berhubungan dengan peningkatan risiko kanker tertentu, seperti:
Infeksi virus hepatitis B atau C (berkaitan dengan kanker hati)
HPV (berkaitan dengan kanker serviks dan beberapa kanker lain)
Infeksi kronis lain yang tidak tertangani dengan baik
5. Faktor Genetik dan Riwayat Keluarga
Pada sebagian kecil pasien, faktor genetik dapat berperan.
Hal ini bisa terlihat dari:
Adanya riwayat kanker pada keluarga dekat
Kanker muncul pada usia lebih muda dari biasanya
Pola kanker yang berulang dalam keluarga
Namun penting dipahami bahwa memiliki riwayat keluarga bukan berarti pasti akan terkena kanker dan tidak memiliki riwayat keluarga bukan berarti bebas risiko
Kenapa Penting Memahami Hal Ini?
Memahami faktor risiko bukan untuk menimbulkan rasa bersalah.
Tetapi untuk:
Membantu pasien lebih memahami kondisi tubuhnya
Menjadi bahan evaluasi gaya hidup ke depan
Dan meningkatkan kewaspadaan terhadap kesehatan jangka panjang
Karena dalam penanganan kanker, pendekatan yang baik tidak hanya fokus pada terapi, tetapi juga pada pemahaman menyeluruh terhadap faktor yang mungkin berperan.
Setelah diagnosis kanker, ada banyak hal yang bisa dilakukan selain menjalani pengobatan, seperti:
Memahami kondisi penyakit dengan jelas
Menyiapkan tubuh dan mental
Mengevaluasi gaya hidup
Dan memahami faktor risiko yang mungkin terkait
Semua ini bertujuan untuk membantu pasien menjalani terapi dengan lebih siap dan lebih terarah.
Salam Sehat,
dr. Andreas Ronald Sp.Onk.Rad



Comments