Bawang Putih dan Potensinya dalam melawan kanker
- dr. Andreas Ronald Sp.Onk.Rad

- Jan 16
- 2 min read
Updated: Jan 17
Halo, saya dr. Andreas Ronald, dokter spesialis onkologi radiasi yang menangani pasien kanker di Bali. Dalam praktik onkologi, saya hampir selalu mengingatkan satu hal penting sejak awal:kanker tidak muncul karena satu faktor saja.

Ia berkembang melalui proses panjang, melibatkan faktor genetik, peradangan kronis, gaya hidup, lingkungan, serta paparan berbagai zat karsinogen dalam jangka waktu lama. Karena itu pula, upaya pencegahan kanker jarang datang dari satu intervensi tunggal.
Di sinilah kemudian muncul ketertarikan terhadap peran nutrisi, termasuk bahan sederhana seperti bawang putih.
Mengapa Bawang Putih Banyak Diteliti?
Bawang putih mengandung senyawa sulfur aktif, terutama allicin, yang terbentuk ketika bawang putih dihancurkan atau dicincang.
Dalam literatur ilmiah, bawang putih tidak diposisikan sebagai terapi kanker, melainkan sebagai bahan pangan yang memiliki aktivitas biologis potensial.
Sebuah tinjauan di Journal of Nutrition (2016) menunjukkan bahwa konsumsi bawang putih dikaitkan dengan perubahan biomarker yang berhubungan dengan stres oksidatif dan inflamasi — dua proses yang diketahui berperan dalam karsinogenesis.
Penting untuk dipahami, temuan ini bersifat asosiasi, bukan bukti sebab-akibat langsung.
Apa yang Dilakukan Senyawa Bawang Putih di Tingkat Sel?

Beberapa studi eksperimental dan review, termasuk yang dimuat di jurnal Nutrients (2020), menunjukkan bahwa senyawa sulfur dari bawang putih dapat:
Berperan dalam modulasi stres oksidatif
Mempengaruhi jalur detoksifikasi enzimatik terhadap zat karsinogen
Mendukung fungsi sistem imun dalam pengawasan seluler
Temuan-temuan ini terutama berasal dari penelitian laboratorium dan hewan, sehingga tidak dapat langsung disamakan dengan efek klinis pada manusia. Namun, mekanisme tersebut memberikan dasar biologis mengapa bawang putih menarik untuk diteliti lebih lanjut.
Cara Konsumsi dan Batasan Manfaatnya
Penelitian di Food Chemistry (2018) menunjukkan bahwa pembentukan allicin optimal terjadi ketika bawang putih dihancurkan dan dibiarkan beberapa menit sebelum dipanaskan.

Secara praktis:
Konsumsi 1–2 siung per hari masih dalam batas aman bagi sebagian besar orang
Tidak harus mentah jika menimbulkan keluhan pencernaan
Manfaatnya bersifat pendukung, bukan terapeutik
Bawang putih matang tetap mengandung senyawa bioaktif lain, meski kadar allicin berkurang.
Sebagai dokter onkologi radiasi, saya perlu menegaskan dengan jelas:
Bawang putih bukan obat kanker.Bawang putih tidak menggantikan radioterapi, kemoterapi, atau terapi medis lainnya.
Namun dalam konteks kesehatan jangka panjang, bawang putih dapat menjadi bagian dari pola makan yang mendukung keseimbangan biologis tubuh, terutama bila dikombinasikan dengan:
Aktivitas fisik
Berat badan sehat
Tidak merokok
Kontrol paparan zat karsinogen lingkungan
Dalam dunia kanker, yang sering berbahaya bukan satu paparan besar, melainkan akumulasi paparan kecil yang berlangsung lama. Dalam praktik sehari-hari, saya jarang melihat kanker berkembang karena satu kesalahan besar. Yang lebih sering adalah proses panjang tanpa gejala, hingga akhirnya terdeteksi terlambat.
Karena itu, upaya pencegahan perlu dilihat sebagai rangkaian kebiasaan kecil yang konsisten. Bawang putih bisa menjadi salah satunya bukan sebagai terapi namun dalam bentuk pola hidup sehat melawan kanker
Salam hangat,
dr. Andreas Ronald Batara Sebastian, Sp. Onk. Rad



Comments