Kanker Tidak Bisa Dioperasi — Apakah Masih Ada Harapan
- dr. Andreas Ronald Sp.Onk.Rad

- Jan 16
- 3 min read
Halo, saya dr. Andreas Ronald, dokter spesialis onkologi radiasi yang menangani pasien kanker di Bali.Dalam praktik sehari-hari, ada satu pertanyaan yang sering sekali saya dengar, dan hampir selalu diucapkan dengan suara pelan.
“Dok… dokter bilang kanker saya tidak bisa dioperasi. Apakah itu berarti sudah tidak ada harapan?”
Kalimat itu tidak pernah terasa ringan. Bagi pasien dan keluarga, kata “tidak bisa dioperasi” sering terdengar seperti akhir dari semua pilihan. Padahal, dalam dunia onkologi, maknanya jauh lebih luas dari itu.
Kasus yang ingin saya bagikan di sini adalah salah satu contoh bagaimana harapan masih bisa ada, meskipun operasi bukan pilihan.
Saat Operasi Bukan Pilihan
Pasien datang dengan kanker kepala dan leher. Hasil patologi menunjukkan karsinoma sel skuamosa. Berdasarkan lokasi tumor, keterlibatan jaringan sekitar, serta pertimbangan fungsi bicara dan menelan, tindakan operasi tidak menjadi pilihan yang aman pada saat itu.
Bagi sebagian besar pasien, operasi sering dianggap sebagai satu-satunya cara untuk “menghilangkan kanker”. Ketika itu tidak memungkinkan, wajar jika muncul rasa takut dan kebingungan.
Di titik inilah saya selalu menekankan bahwa tidak bisa dioperasi bukan berarti tidak bisa diobati.
Tidak Bisa Dioperasi Bukan Berarti Tidak Ada Terapi
Dalam kanker kepala dan leher, radioterapi sering kali justru menjadi terapi utama.
Tujuan tapi bukan hanya mengecilkan tumor, tetapi juga menjaga fungsi organ-organ penting di sekitarnya. Ini adalah keseimbangan yang harus dijaga sejak awal. Pada kasus ini, saya melakukan radioterapi eksternal dengan teknik IMRT (Intensity-Modulated Radiation Therapy).
Kanker kepala dan leher memiliki tantangan khusus. Tumor sering berada sangat dekat dengan struktur vital seperti kelenjar ludah, medula spinalis, dan jalur menelan. Kesalahan kecil dalam distribusi radiasi dapat berdampak besar terhadap kualitas hidup pasien.
Dengan IMRT, saya dapat:
Memfokuskan dosis radiasi secara optimal ke area tumor
Mengurangi paparan ke jaringan sehat di sekitarnya
Menurunkan risiko efek samping jangka panjang
Bagi saya, IMRT bukan sekadar teknologi, tetapi bentuk tanggung jawab klinis terhadap pasien.
Pasien saya menjalani 10 kali penyinaran dengan dosis 3 Gy per sesi. Pertanyaan yang hampir selalu muncul adalah, “Kenapa belum langsung dosis penuh?”
Saya menjelaskan bahwa pada beberapa kasus, evaluasi respon awal tumor sangat penting. Dengan skema ini, saya ingin melihat bagaimana tumor bereaksi terhadap radiasi sejak tahap awal terapi.
Jika tumor menunjukkan respon yang baik, terapi dapat dilanjutkan dengan keyakinan yang lebih kuat. Jika respon kurang optimal, masih ada ruang untuk menyesuaikan strategi lebih dini.
Pendekatan ini selaras dengan praktik berbasis guideline internasional seperti NCCN dan ESMO untuk kanker kepala dan leher, namun tetap disesuaikan dengan kondisi individual pasien.
Bagian berikut adalah contoh hasil klinis nyata dari pasien yang menjalani radioterapi dengan pendekatan di atas.Identitas pasien telah disamarkan sepenuhnya, dan gambar ditampilkan hanya untuk tujuan edukasi.
Kondisi Sebelum Radioterapi

CT scan sebelum radioterapi menunjukkan massa tumor pada area kepala dan leher dengan ukuran dan batas yang jelas, sesuai dengan kondisi klinis awal pasien.
Kondisi Setelah 10 Kali Radioterapi (10 × 3 Gy)

CT scan evaluasi setelah 10 kali radioterapi menunjukkan pengecilan ukuran tumor yang bermakna dibandingkan kondisi sebelum terapi.
Respon ini menunjukkan bahwa tumor memberikan respon yang baik terhadap radiasi. Temuan ini menjadi dasar penting untuk melanjutkan terapi sesuai rencana.
Perlu dipahami bahwa hasil setiap pasien bisa berbeda, tergantung pada karakteristik biologis tumor dan kondisi masing-masing individu. Bagi pasien dan keluarga, perbandingan sebelum dan sesudah sering kali memberi kekuatan baru. Dari rasa takut yang mendominasi, muncul keyakinan bahwa masih ada jalan yang bisa ditempuh.
Dengan teknik modern seperti IMRT, radioterapi adalah terapi yang direncanakan secara matang, presisi, dan disesuaikan dengan kondisi pasien. Dalam banyak kasus kanker kepala dan leher, inilah terapi utama yang memberi hasil bermakna.
Refleksi Pribadi
“Kanker tidak bisa dioperasi” bukan akhir dari cerita.
Kasus ini mengingatkan saya bahwa harapan dalam onkologi sering kali datang dari perencanaan yang tepat, evaluasi bertahap, dan kepercayaan pasien untuk menjalani proses yang tidak mudah.
Jika Anda atau keluarga sedang berada dalam kondisi serupa, penting untuk tahu bahwa masih ada pilihan. Diskusi terbuka dengan dokter onkologi radiasi dapat membantu menentukan langkah terapi yang paling sesuai. Setiap pasien unik. Setiap terapi harus dipersonalisasi.
Salam hangat,
dr. Andreas Ronald Batara Sebastian, Sp. Onk. Rad



Comments