Sakit Kanker, harus makan apa ?
- dr. Andreas Ronald Sp.Onk.Rad

- 1 day ago
- 5 min read
Updated: 16 hours ago

Halo... saya dr. Andreas Ronald Sp.Onk.Rad yang menangani pasien kanker di Bali. Banyak sekali pasien saya bingung harus makan apa? dan pantang makan apa? banyak pasien bahkan sampai kurus kering karena merasa serba salah, makain in tidak boleh itu tidak boleh. Padahal saat pengobatan kanker, tubuh justru perlu asupan gizi agar kuat menjalani pengobatan.
Saya ingin berbagi pengalaman selama saya praktek sebagai dokter spesialis onkologi radiasi di Bali. Saya memiliki banyak pasien dengan kanker nasofaring yang mana mereka mendapatkan radiasi yang sama lokasinya dengan dosis yang sama. Namun demikian, ada hal yang membedakan respon terapi dan kepatuhan terhadap terapi yang mempengaruhi pengobatan radiasinya. Faktor tersebut bukan usia karena ternyata banyak pasien saya yang usia lebih tua yang bisa menyelesaikan terapi dengan baik dan respon terapi yang baik dibandingkan yang usia muda. hal yang membedakan adalah asupan nutrisi selama terapi dan bukan usia.
sebagai contoh, saya akan bandingkan 2 pasien saya. Untuk pasien pertama, sebut saja A dan pasien kedua B. Pasien A sejak awal berusaha mengikuti edukasi yang saya berikan walaupun mengalami keluhan efek samping seiring berjalanya radiasi seperti nyeri saat menelan, sariawan, dan penurunan nafsu makan namun dia tetap berusaha makan dalam porsi sedikit tapi sering, mengonsumsi makanan sesuai anjuran, terapi berjalan sesuai jadwal, efek samping lebih terkendali serta pemulihan lebih cepat dan respon terapi lebih baik. Disisi lain, Pasien B juga mengalami keluhan yang sama namun karena lebih sering menghindari makan akibatnya asupan kalori sangat kurang, berat badan turun signifikan dan tubuh menjadi lebih lemah. hal ini membuat terapi sempat tertunda, efek samping terasa lebih berat dan pemulihan berlangsung lebih lama
Dari dua pasien ini, saya belajar satu hal yang sangat penting yaitu terapi yang sama tidak selalu memberikan hasil yang sama dimana Salah satu pembeda terbesarnya adalah: status nutrisi
Bukan karena salah satu lebih kuat dari yang lain tapi karena tubuh yang mendapat cukup nutrisi punya “bahan bakar” untuk bertahan dan pulih.
Prinsip Makanan untuk Pasien Kanker
Sebelum membahas jenis makanan secara spesifik, penting untuk diipahami bahwa ada 4 hal utama yang perlu diperhatikan dalam pola makan pasien kanker, yaitu: bahan makanan, proses persiapan, alat masak, cara memasak. Ketiga hal ini sama pentingnya. Karena makanan yang terlihat “sehat” sekalipun bisa menjadi kurang baik jika tidak diproses dengan benar.
1. Bahan Makanan

Bahan makanan adalah fondasi utama. Pilihlah bahan makanan yang segar dari alam yang minim proses, dan kaya nutrisi (protein, vitamin, mineral). Bahan yang baik akan memberikan “bahan bakar” yang dibutuhkan tubuh untuk pulih dan menjalani terapi.
Contohnya:
Sayur dan buah segar
Ikan segar (bukan awetan seperti ikan asin, makanan kaleng), ayam organik atau tanpa tambahan hormon , telur, kacang-kacangan alami (bukan yang terlalu asin atau berperisa)
Karbohidrat kompleks seperti umbi-umbian.
2. Proses Persiapan

Banyak orang melewatkan bagian ini, padahal sangat penting. Bahan makanan yang sehat bisa menjadi berisiko jika tidak dipersiapkan dengan baik.
Contoh sederhana:
Sayur yang tidak dicuci dengan bersih bisa masih mengandung residu pestisida
Buah yang langsung dimakan tanpa dikupas atau dicuci dapat membawa kotoran atau zat berbahaya
Daging atau ikan yang tidak disimpan dengan benar bisa terkontaminasi bakteri
Pada pasien kanker, sistem imun seringkali lebih lemah, sehingga risiko infeksi atau paparan zat berbahaya menjadi lebih besar.
Karena itu:
Cuci bahan makanan dengan air mengalir namun untuk perlindungan ekstra bisa menggunakan apple cider vinegar dan larutan garam.
Simpan makanan dengan baik
Pastikan kebersihan alat dan tangan saat menyiapkan makanan
3. Alat Masak

Kenapa alat masak itu penting? Saat memasak, terutama dengan panas, beberapa jenis alat bisa melepaskan zat tertentu ke dalam makanan. Dalam kondisi sehat mungkin tidak terlalu terasa, tapi pada pasien kanker di mana tubuh sedang dalam proses pemulihan. kita ingin semuanya seoptimal mungkin dan seminimal mungkin risiko tambahan. Alat yang Lebih Aman Digunakan :
Stainless steel adalah salah satu pilihan paling aman dan praktis. Bahan ini tahan panas, tidak mudah bereaksi dengan makanan, dan tidak melepaskan zat berbahaya. Cocok digunakan untuk menumis, merebus, dan memasak sehari-hari.
Kaca (glass cookware) juga sangat baik, terutama untuk wadah makanan, oven, dan penyimpanan. Kaca tidak bereaksi dengan makanan, tidak menyerap bau, dan aman untuk penggunaan jangka panjang.
Keramik food-grade bisa menjadi pilihan untuk piring atau mangkok, selama tidak retak atau lapisannya tidak mengelupas.
Alat berbahan kayu seperti talenan atau spatula juga relatif aman, selama dibersihkan dengan baik dan tidak lembap atau berjamur.
Sedangkan untuk alat yang Perlu Lebih Hati-hati dan lebih bijak digunakan contohnya :
Teflon yang sudah tergores sebaiknya tidak digunakan lagi, karena lapisan anti lengket yang rusak bisa ikut tercampur ke dalam makanan, terutama saat terkena panas tinggi.
Wadah & Sendok plastik, terutama yang bukan food-grade, sebaiknya tidak digunakan untuk makanan panas atau dipanaskan di microwave, karena berpotensi melepaskan zat tertentu ke dalam makanan.
Aluminium masih sering digunakan, namun sebaiknya tidak digunakan secara berlebihan, terutama untuk memasak makanan yang bersifat asam karena bisa bereaksi dengan bahan makanan.
Hal Kecil yang sering dilupakan dan perlu diperhatikan yang sering terjadi di dapur justru bisa meningkatkan risiko kontaminasi, seperti menggunakan talenan yang sama untuk daging mentah dan sayur, menggunakan spons cuci piring yang sudah kotor, atau menyimpan makanan dalam wadah yang tidak benar-benar bersih dan kering.
4. Cara Masak
Cara memasak sangat mempengaruhi kualitas akhir makanan. cara memasak yang dianjurkan:
Dikukus (dengan air bersih bukan keran)
Direbus (dengan air bersih bukan keran)
Ditumis ringan (dengan minyak olive oil)
lebih dianjurkan karena nutrisi lebih terjaga, tidak menambah lemak berlebih, dan menghindari pembentukan zat berbahaya dari suhu tinggi. Cara memasak yang sebaiknya di HINDARI:
Digoreng, terutama deep fried
Memasak dengan suhu sangat tinggi hingga gosong
hal ini kurang baik karena meningkatkan lemak jenuh dan kalori berlebih, dapat menghasilkan senyawa yang tidak baik bagi tubuh jika makanan sampai terlalu kering atau gosong dan bisa memperberat kerja tubuh yang sedang dalam proses pemulihan
Makanan yang baik untuk pasien kanker bukan hanya soal “apa yang dimakan”,tetapi juga bagaimana makanan itu dipilih, dipersiapkan, dan dimasak. bahan yang baik + persiapan yang bersih + cara memasak yang tepat= nutrisi yang optimal untuk membantu tubuh kamu tetap kuat selama pengobatan.
Untuk kamu yang sedang berjuang..
Makanan bukan sekadar mengenyangkan. Makanan adalah pesan yang kamu kirimkan ke tubuh: untuk memperbaiki, untuk menguatkan, dan untuk bertahan.
Ini bukan tentang diet ketat atau larangan berlebihan, tetapi tentang menjadi lebih sadar dan lebih selektif karena di masa ini, tubuh kamu sedang bekerja sangat keras.Setiap sel berjuang. Setiap energi sangat berarti.
Tidak harus langsung sempurna. Tidak perlu berubah drastis dalam satu hari. Cukup mulai dengan satu keputusan baik hari ini.
Ini bukan tentang menyalahkan masa lalu,tetapi tentang memberi tubuh kamu kesempatan terbaik untuk hari ini dan masa depan. Karena dalam setiap suapan yang kamu pilih dengan sadar, ada bentuk kasih sayang yang nyata untuk diri kita sendiri.
Salam hangat,
dr. Andreas Ronald Sp.Onk.Rad



Comments