top of page

Apakah Kanker Bisa Sembuh dengan Radioterapi?

  • Writer: dr. Andreas Ronald Sp.Onk.Rad
    dr. Andreas Ronald Sp.Onk.Rad
  • 3 days ago
  • 3 min read
Apakah Kanker Bisa Sembuh dengan Radioterapi?

Halo, saya dr. Andreas Ronald, Sp.Onk.Rad dokter spesialis onkologi radiasi. Saat ini saya menangani pasien kanker di RS Bali Mandara. Million dollar question dari pasien kanker ialah "apakah kanker bisa sembuh dengan radioterapi?"


Jawabannya adalah: ya, kanker bisa sembuh dengan radioterapi, mari kita bedah.

Pertama, kita perlu memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan “sembuh”.

Dalam dunia medis, sembuh berarti kanker sudah tidak terdeteksi lagi, baik melalui :

  • Pemeriksaan radiologi (seperti CT scan, MRI, atau PET scan)

  • Pemeriksaan laboratorium (misalnya tumor marker seperti CEA, CA-125, PSA, AFP yang kembali normal sesuai jenis kanker)

  • Evaluasi klinis (tidak ada tanda atau gejala sisa kanker)

Jika semua parameter tersebut menunjukkan tidak adanya kanker, maka kondisi tersebut disebut remisi lengkap, yang secara praktis dapat dianggap sebagai sembuh.


Bagaimana Radioterapi Bisa Menyembuhkan Kanker?


Radioterapi bekerja dengan menggunakan radiasi untuk merusak sel kanker hingga tidak bisa berkembang lagi dan akhirnya mati. Pada kondisi tertentu, terutama jika kanker masih dalam stadium awal atau terlokalisasi, radioterapi bahkan bisa menjadi terapi utama yang bertujuan menyembuhkan.

Salah satu analogi sederhana yang saya selalu kisahkan ke pasien, "bayangkan sel kanker seperti tanaman liar di kebun. Radioterapi berfungsi seperti alat yang sangat presisi untuk menghancurkan tanaman liar tersebut hingga ke akar-akarnya, tanpa merusak terlalu banyak area di sekitarnya"

Namun, keberhasilan “membersihkan” tanaman liar ini sangat bergantung pada:

  • Seberapa cepat kita menemukannya

  • Seberapa luas penyebarannya

  • Seberapa tepat metode yang digunakan

  • Skill & ketelitian dokter saat menggambar


Dalam praktik saya sehari-hari, saya menggunakan teknik radioterapi modern yang disebut IMRT (Intensity Modulated Radiotherapy).

Secara sederhana, IMRT adalah teknik radiasi yang bisa mengatur intensitas sinar secara sangat presisi sesuai bentuk tumor.

Analogi yang mudah dipahami:Bayangkan kita ingin menyiram tanaman tertentu di taman, tetapi di sekitarnya ada bunga-bunga yang harus dijaga.

  • Teknik lama seperti menyiram dengan ember—airnya kena ke mana-mana.

  • Sedangkan IMRT seperti menggunakan selang dengan nozzle pintar yang bisa diarahkan dan diatur tekanannya, sehingga air hanya mengenai target yang diinginkan secara akurat.

Dengan IMRT:

  • Dosis radiasi bisa difokuskan maksimal ke tumor

  • Jaringan sehat di sekitarnya lebih terlindungi

  • Efek samping bisa ditekan seminimal mungkin

Yang perlu diketahui juga, teknologi dan teknik yang saya gunakan di tempat saya bekerja setara dengan yang digunakan di negara maju seperti Singapura, Malaysia, bahkan Eropa dan Amerika.

Artinya tidak perlu jauh-jauh berobat ke luar negeri, karena kualitas terapi yang tersedia di sini sudah mengikuti standar internasional.


Dari pengalaman saya, ada beberapa faktor utama yang sangat memengaruhi apakah kanker bisa benar-benar bersih:


1. Kecepatan Diagnosis


Semakin cepat kanker ditemukan, semakin tinggi peluang untuk sembuh. Kanker yang masih kecil dan belum menyebar jauh jauh lebih mudah dikontrol dengan radioterapi.


2. Ketepatan dan Kecepatan Terapi


Kanker adalah penyakit yang bisa bersifat agresif dan berkembang cepat. Oleh karena itu, terapi juga harus dilakukan dengan cepat dan tepat sesuai indikasi.

Inilah alasan mengapa penting bagi pasien untuk:

  • Tidak menunda pengobatan

  • Memilih fasilitas yang memiliki sistem penanganan yang tidak terlalu lama antriannya. Ini berlaku juga jika anda pasien BPJS jangan berpasrah terhadap rujukan, kamu tetap bisa berjuang minta rujukan ke RS yang antriannya singkat, dan ini memang diijinkan secara sistim rujukan BPJS.

Karena dalam banyak kasus, waktu sangat menentukan hasil akhir. Inilah tekanan yang saya rasakan sebagai seorang dokter onkologi, saya sadar ini adalah urusan nyawa, sehingga merelakan akhir pekan untuk tetap mengerjakan delineasi kanker agar pasien bisa cepat di radiasi bagi saya tetap worth it!


3. Pendekatan Terapi yang Personal


Di era BPJS dimana pasien bisa berobat kanker gratis, tantangan besar lainnya adalah dari diri pasien sendiri. Baru-baru ini saya pernah punya kasus pasien kanker payudara yang fobia tempat sempit. Ini membuat beliau takut saat masuk ke alat penyinaran, sempat menyatakan mau menyerah saja. Disinilah saya sadar, peran dokter bukan hanya memberi pengobatan, tapi juga menjadi safe space untuk bercerita dan penyemangat dikala pasien merasa down. Untungnya dengan encouragement , reassurance, dan pendampingan saya berhasil meyakinkan beliau untuk menyelesaikan dosis radiasinya. Kondisinya semakin membaik dan dapat beraktifitas lagi seperti biasa. Terkadang hati yang tenang adalah kunci menuju tubuh yang sehat.


Terakhir, saya ingin berpesan, keberhasilan terapi tidak hanya bergantung pada teknologi dan dokternya, tetapi juga pada tindakan pasien sendiri dalam komitmen pasien dalam menjalani terapi. Beberapa pasien entah kenapa suka bolong-bolong dalam menghadiri jadwal terapi :,) dengan berbagai alasan yang terkadang saya rasa tidak sepenting nyawa pasien tersebut.


Pesan saya sebagai dokter: jangan menunda atau malas untuk memeriksakan diri dan memulai pengobatan yaa : ) nyawamu itu sangat berharga.


Jika ingin berkonsultasi lebih lanjut, bisa whatsapp untuk membuat janji temu dengan saya.


Salam sehat,


dr. Andreas Ronald Sp.Onk.Rad

Comments


bottom of page