Berapa lama efek radiasi bertahan di tubuh saya?
- dr. Andreas Ronald Sp.Onk.Rad

- Jun 28, 2025
- 3 min read
Updated: 7 days ago
Halo, saya dr. Andreas Ronald, Sp.Onk.Rad, dokter spesialis onkologi radiasi yang menangani pasien kanker di RS Bali Mandara.
Dalam praktik sehari-hari, salah satu kekhawatiran yang cukup sering saya dengar dari pasien setelah atau selama menjalani radioterapi adalah :

“Dok, setelah diradiasi… radiasinya masih ada di tubuh saya berapa lama “Apakah saya jadi ‘mengandung radiasi’?” “Apakah saya berbahaya untuk keluarga atau anak di rumah?”
Pertanyaan-pertanyaan ini sangat wajar karena kata “radiasi” sendiri sering kali terdengar menakutkan, dan tidak sedikit pasien membayangkan bahwa setelah terapi selesai, radiasi akan “tersimpan” lama di dalam tubuh.
Di sisi lain, ada juga pasien yang menjadi sangat khawatir saat berada dekat dengan pasangan, anak, atau cucu karena takut memberikan efek buruk bagi orang di sekitarnya. Dari pengalaman saya, kekhawatiran ini biasanya bukan karena pasien tidak peduli, tetapi justru karena mereka ingin melindungi orang-orang yang mereka sayangi. Namun sayangnya, banyak informasi yang beredar masih bercampur antara fakta medis dan miskonsepsi.
Padahal, pemahaman mengenai “efek radiasi” perlu dibedakan dengan jelas:
Apakah yang dimaksud adalah radiasi yang masih tersisa di tubuh? Atau efek samping tubuh setelah menjalani radioterapi? Keduanya adalah hal yang berbeda.
Di sinilah pentingnya memahami bagaimana radioterapi sebenarnya bekerja, sehingga pasien tidak hidup dalam ketakutan yang tidak perlu. Kenapa Banyak Pasien Takut “Radiasinya Masih Ada” di Tubuh?
Dalam praktik sehari-hari, saya sering menemukan bahwa setelah pasien menyelesaikan beberapa sesi radioterapi, muncul kekhawatiran yang sangat manusiawi :

“Dok, saya boleh dekat anak saya tidak?”“Saya aman tidur dengan pasangan?”“Setelah terapi, saya masih mengandung radiasi?”
Bahkan ada pasien yang memilih menjaga jarak dari keluarga karena takut membahayakan orang lain. Kekhawatiran seperti ini sangat bisa dipahami.
Karena banyak orang membayangkan radioterapi seperti “paparan radiasi” yang menetap di tubuh, lalu bisa berpindah ke orang sekitar. Padahal, pada sebagian besar jenis radioterapi yang paling umum digunakan (radioterapi eksternal), kondisi tersebut tidak seperti itu.
Namun karena istilahnya terdengar besar dan menakutkan, pasien sering kali:
Mengaitkan radioterapi dengan radioaktif permanen
Takut menyentuh keluarga
Atau hidup dengan kecemasan yang sebenarnya tidak perlu
Di sisi lain, memang ada pasien yang merasakan efek samping tubuh setelah terapi, seperti:
Kulit lebih sensitif
Mudah lelah
Area tertentu terasa tidak nyaman
Dan ini sering membuat pasien semakin yakin bahwa “radiasinya masih ada”.
Padahal, yang perlu dipahami adalah radiasi yang digunakan untuk terapi dan efek tubuh setelah terapi adalah dua hal yang berbeda.
Dalam banyak kasus, tubuh pasien tidak menjadi sumber radiasi setelah sesi radioterapi eksternal selesai. Jadi, kekhawatiran terbesar sering kali sebenarnya berasal dari miskonsepsi, bukan dari kondisi medis yang sebenarnya.
Di titik ini, biasanya pasien mulai merasa lebih tenang dan dari sinilah kita bisa mulai menjawab pertanyaan yang paling penting:
Sebenarnya, apakah radiasi tetap tinggal di tubuh? Dan berapa lama efeknya bisa dirasakan?
Jawaban singkatnya adalah tidak tinggal di tubuh kita.
Ini adalah salah satu hal terpenting yang perlu dipahami pasien.
Yang perlu dipahami:
Radiasi hanya bekerja saat mesin aktif
Setelah sesi selesai, radiasi tidak “tersimpan” di tubuh
Anda umumnya tidak menjadi radioaktif
Tidak membahayakan keluarga, pasangan, atau anak di rumah
Artinya, setelah selesai sesi sudah aman berada dekat orang lain
jadi, pasien umumnya tidak perlu mengisolasi diri hanya karena menjalani radioterapi
Jadi, Kenapa Tubuh Saya Masih Merasa “Berbeda”?
Ini bagian yang sering membingungkan meskipun radiasinya tidak menetap, tubuh tetap bisa mengalami efek samping terapi. Efek ini bukan karena tubuh “menyimpan radiasi”, tetapi karena jaringan tubuh sedang merespons pengobatan. Dari pengalaman saya, salah satu ketakutan terbesar pasien setelah menjalani radioterapi sering kali bukan hanya soal terapinya, tetapi juga kekhawatiran:
“Apakah tubuh saya masih berbahaya?”“Apakah saya bisa membahayakan keluarga?”
Padahal, pada sebagian besar radioterapi eksternal, tubuh pasien tidak menjadi sumber radiasi setelah sesi selesai. Artinya, banyak pasien sebenarnya tidak perlu hidup dalam rasa takut yang berlebihan hanya karena miskonsepsi tentang “radiasi yang tertinggal”. Yang lebih sering dirasakan adalah proses pemulihan tubuh terhadap terapi bukan karena tubuh menyimpan radiasi. Memahami perbedaan ini sangat penting. Karena ketika pasien memahami apa yang benar-benar terjadi pada tubuhnya, biasanya :
Rasa cemas berkurang
Hubungan dengan keluarga terasa lebih tenang
Dan proses terapi bisa dijalani dengan lebih percaya diri
Pada akhirnya, tujuan radioterapi adalah membantu mengobati kanker dengan cara yang terukur dan terarah bukan membuat pasien hidup dalam ketakutan baru.
Salam Hangat,
dr.Andreas Ronald, Sp.Onk.Rad



Comments